Wednesday, December 24, 2008

Progress

3 Cerpen sudah jadi, dan 3 cerpen lain dalam progres. Direncanakan ada 12 cerpen dalam kumpulan cerpen ini, tapi melihat hasil-hasil sepanjang ini, aku pikir ini akan jadi 17, karena banyak gaya-gaya eksperimental yang dimasukkan, sehingga ada cerpen-cerpen yang halamannya nggak terlalu banyak. 34-an ide cerpen untuk dieksekusi sudah antri, dan berbagai tema diangkat: geng sekolah, con artist, orang yang mempunyai "stranger" di dalam dirinya alias berkepribadian ganda, gay stuff, anak baru yang sering pindah, psikopat, dan tentu saja, lover :D

Hari ini browsing goodreads quotes tentang "stranger" dan, hell, lotsa inspiration I got there :)

I enjoy writing these stuffs so much, and I hope you will too, by the time I publish it. I mean! (baca: Amin).

Tuesday, December 23, 2008

Cerpen 1 : It Doesn't Matter, They're Stranger.

Tepukan pelan tapi tegas di pundak itu membangunkan Viani.

Viani membuka matanya perlahan, lalu memicingkannya dengan bingung. Hmm, ia baru teringat. Ia sedang ada di bis. Bis menuju rumahnya. Ia baru pulang dari kampus. Benar. Viani mengangkat wajahnya, memandang si kondektur, pelaku pembuyaran mimpinya. Sosok tinggi itu menatapnya dingin, dengan titik-titik keringat kecil di dahi serta lehernya. Sosok berbaju biru itu tidak mengatakan apapun, hanya mengguncang-guncang uang di tangannya, pertanda ia meminta Viani membayar ongkos bus.

Viani, masih dengan mata terpicing, merogoh saku celananya, mencari 3 lembar seribuan dan 1 koin 500-an. Rasanya tadi ada receh sisa membeli baso tahu. Tapi ia tidak bisa menemukannya. Dompet, dompet. Ia mencari tasnya. Tidak ada di pangkuannya. Si kondektur menatapnya semakin lekat.

“Di bawah, Mbak,” Sebuah suara menyahut dari sebelahnya. Viani menoleh. Seorang laki-laki, berpolo shirt putih, rambut cepak, memandangnya. “Tadi tas Mbak jatuh. Tapi saya perhatikan dari tadi, tidak ada yang menyentuhnya kok. Saya tidak berani mengambilnya, soalnya takut membangunkan Mbak.”

Viani buru-buru melihat ke bagian kanannya. Benar saja, tasnya ada di lorong antar kursi. Tampaknya terjatuh ketika ia sedang tidur. Untung ini bis terakhir dan penumpangnya relatif sedikit. Kalau tidak, mungkin sudah ada orang yang mengambil tasnya atau paling tidak, orang-orang yang tidak mendapat tempat duduk akan menginjak-nginjaknya.

Gadis itu menyibak rambut panjangnya ke balik telinganya, lalu mengambil tasnya. Dirogohnya dompetnya. Diberikannya uang yang dibutuhkannya dan diberikannya uang itu pada si kondektur. Si kondektur tanpa banyak ba bi bu langsung melanjutkan menagih ongkos ke penumpang selanjutnya.

Sementara Viani dengan canggung mencuri pandang ke sampingnya lagi. “Ehm, terima kasih atas pemberitahuannya ya. Dan sudah... yah, mengawasi tas gue,” ucapnya.

Laki-laki itu, di bawah temaram lampu Bandung di malam hari, di garis-garis wajahnya yang tampak lembut, tersenyum pendek. Viani membalas tersenyum canggung.

Mereka terdiam sejenak. Laki-laki itu, yang memang duduk di samping jendela, terus melongokkan kepalanya menghadap jendela, dengan mata yang menelusur jauh, seakan-akan ia sedang mencari sesuatu di pinggir jalan yang mereka lewati. Dan selain dari penampilan laki-laki ini yang sangat mahasiswa, garis wajah lembutnya, Viani hanya sempat memerhatikan bahwa tangan laki-laki itu juga memegang sepucuk koran ibu kota.

Ah, ya, koran. Viani menggaruk kepalanya. Hari ini ia belum sempat membaca koran. Tadi pagi ia begitu sibuk menghafal buku Akuntansinya, karena ada kuis hari ini dan ia tertidur tadi malam, setelah semalaman bertengkar di telepon dengan pacarnya, Arya. Jadilah.
Padahal tidak membaca berita sehari sudah cukup menyiksa baginya. Berita seperti cerita bersambung yang menyenangkan yang ia tunggu setiap hari kelanjutannya. Bagaimana tindakan pemerintah Amerika setelah Bush dilempar sepatu? Bagaimana pejabat ini itu yang sedang diperiksa itu? Bagaimana hasilnya? Atau merutuki setiap tindakan kriminal baru yang terjadi. Mutilasi, penculikan, pemerkosaan, yang entah kenapa cukup menyenangkan untuk dianalisis, dan, ya, sedingin terdengarnya, ditertawai—“Ck, ck, ck, makin gila aja nih orang-orang”.
Dan tentu saja, berita-berita selalu menyenangkan untuk dibicarakan di meja makan bersama paman bibinya, mengingat mereka tidak terlalu dekat dan Viani tidak terbiasa bercerita tentang hal-hal privat pada mereka. Berita adalah subtitusi yang bagus, kan?

“Boleh saya lihat korannya?” kata Viani lagi.

Laki-laki itu memalingkan wajah sejenak dari jendela, dan bibirnya membentuk senyum tipis lagi. “Uhm, ya, silakan,” katanya, menyodorkan koran itu pada Viani. Viani menyambutnya dan mulai membenamkan diri di koran itu.

“Kamu suka baca koran, ya?” Tiba-tiba laki-laki itu bersuara lagi.

“Uhm, ya? Oh iya, hobi mungkin. Hahaha,” Viani mengangkat bahunya. “Seru aja. Kayak cerita bersambung. Biar kita tetap stay in touch sama dunia juga, kan?” katanya lagi.

Laki-laki itu, di luar dugaan Viani, tidak seantusias yang ia harapkan. Wajahnya tetap datar, dengan seulas senyum tipis yang terus terlengkung di bibirnya. “Kalau sudah stay in touch dengan dunia, terus gimana?”

“Maksudnya?”

“Apa yang lo lakukan setelah tahu?”

Viani tidak dapat menahan diri untuk tertawa. “Uhm, entahlah. Apa yang bisa gue lakukan? Ada negara yang perang, saling lempar rudal, demonstrasi, gue bisa apa? Gue kan cuma, yah, mahasiswa biasa yang nggak bisa ngapa-ngapain. Ya belajar yang bener aja, siapa tau nanti udah sukses, gue bisa bantu-bantu.”

Wajah laki-laki itu membeku sesaat. Kemudian senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. “Uhm... ya... Tapi ya, memang menarik, ya? Kita pengen tahu kan, apa yang terjadi di dunia. Kecelakaan pesawat baru, negara perang, banjir di sana dan di sini. Seru, memang,” ujarnya lagi. Ia menoleh ke jendela lagi, dan tawanya terdengar aneh di telinga Viani. “Tapi lo tau apa yang aneh?”

“Apa?” Viani mengernyitkan dahinya.

We don't feel anything. Kita nggak ngerasain apa-apa bacanya. Right? It's an entertainment.” Laki-laki itu menyedot ingus sambil tetap tertawa. “Aneh nggak sih? Kenapa ya? Karena kita nggak kenal mereka? Karena mereka stranger, orang yang nggak kita tahu dan nggak kita pedulikan?”

Viani memandang laki-laki itu lekat-lekat. Ia berusaha menanggapinya sebiasa mungkin, walaupun secara jujur, ia merasa bingung dengan pembicaraan ini. Tidak, ia tidak bingung dengan pembicaraan ini, ia bingung dengan ekspresi laki-laki itu.

“Uhm, ya, bener juga,” jawabnya. “I mean, gue liat banjir dan 'oh, gila, repot banget pastinya' atau 'gila, satu keluarga dibantai. Gimana caranya?'. Gitu kan maksud lo? Hahaha...” Viani menertawai dirinya. “Emang nggak berperikemanusiaan sih...”

“Ya,” Laki-laki itu menjawab lagi. Namun gadis itu mengernyit semakin dalam, karena suara laki-laki itu semakin bergetar. Viani menelan ludah, menahan gejolak rasa ingin tahu yang berputar-putar di kepalanya. Ia memutuskan untuk diam dan menunggu kata-kata laki-laki itu selanjutnya.

Laki-laki itu memandangnya lagi, kali ini dengan mata yang... berkaca-kaca. Tapi bibirnya tetap tersenyum, seakan ia bingung dan tidak bisa memutuskan untuk sedih atau bahagia.
“Maksudnya... Aneh aja kan ya? Gue juga suka baca koran. Gue udah baca berbagai berita... Gue tahu segala hal sampai yang paling aneh... Tapi...” Laki-laki itu merenggut koran di tangan Viani. Jarinya menunjuk halaman utama, tentang kecelakaan pesawat terbang. “Pas hari ini, gue dapat telepon... Nyokap bokap gue kecelakaan pesawat terbang... Dan gue beli koran... Gue baca... nama nyokap dan bokap gue... Di sini... dan...” Ia menyeka air mata yang keluar di matanya. “Aneh aja gitu kerasanya. Gue baru ngerasa betapa gue menganggap semua yang gue baca ini tidak real, di luar gue... Maksud gue, biasanya gue biasa aja liat semua berita itu, tapi ternyata sekalinya gue jadi bagian dari berita, aneh juga ya?”

Viani terdiam. Mengangkat bahu. “Uhm... Gue ikut belasungkawa...”

Tapi laki-laki itu tidak menjawab lagi. Ia melihat ke koran itu dalam waktu lama, nyaris tanpa berkedip, lalu memalingkan wajahnya lagi ke jendela, dan tidak pernah berbalik lagi.